Langsung ke konten utama

Untukmu, yang Kuharap Mau Menjadi Tokoh Utama Dalam Hidupku

Tok-tok, permisi. Apakah hatimu sedang ada di tempatnya hari ini? Aku sudah menabung keberanian selama berhari-hari, khusus ingin mengunjunginya kali ini. Aku memang datang dengan tiba-tiba. Semoga kamu tak terlalu terkejut atau justru malu. Aku akan lega jika kamu malah menggelengkan kepala dan tertawa.
Jadi, apa tujuanku datang kali ini? Tidak banyak — hanya ingin bercerita dari hati ke hati. Tentang bagaimana aku pertama kali mengenalmu, bagaimana aku akhirnya memperhatikanmu lebih, hingga bagaimana kamu menjadi nama yang terpikir di otakku hampir setiap waktu.
Aku juga datang dengan sebuah proposisi. Semoga saja, proposisi ini bisa kamu terima dengan tangan terbuka.
Sudah siap mendengar apa yang ingin aku kata?

Mungkin ‘cinta dalam pandangan pertama’ memang tidak ada. Toh, aku masih menganggapmu biasa saja saat awal kita berjumpa.
Perkenalan kita beberapa tahun silam sungguh tidak istimewa. Aku hanya mengenakan kaos hitam yang mulai pudar dengan celana jeans kedodoran untuk seorang wanita. Kaupun juga sama, hanya berbalut jeans yang sobek di beberapa bagian dengan kaos yang sepertinya lupa diseterika.
Kita bertemu di kantin kampus. Aku yang sedang sibuk dengan buku kegemaranku memang tidak mengangkat muka ketika kau meminta ijin bergabung untuk duduk bersama. Ternyata kau merupakan kawan lama dari kawanku yang juga duduk satu meja bersamaku. Kita berkenalan singkat, saling bertautan tangan sembari mengucapkan nama. Masih biasa saja, belum ada tanda apa-apa di sana.
Kau menengok sekilas pada sampul buku yang kubaca. Kemudian kau mengatakan bahwa dia adalah penulis genius dengan teori gilanya. Tulisannya mampu membuatmu tenggelam ke alam imajinasi. Aku menengok dan mendengar tuturanmu. Kau pun melanjutkan perkataanmu, melontarkan nama pengarang lainnya yang masih terdengar asing di telingaku. Menjanjikan akan meminjamkan koleksi bukumu padaku keesokan paginya. Aku mengiyakan, lebih tertarik pada koleksi buku itu daripada orang yang memilikinya sendiri. 

Perasaan itu tumbuh dengan perlahan. Tapi, bukankah cinta yang baik memang tak bisa dipaksakan?

Dari meminjam buku kita lanjutkan berdiskusi seru hingga siang berganti petang. Membuat kita lupa waktu dan tenggelam dalam duniaku dan duniamu. Ternyata obrolan kita tak sebatas pada buku, kita pun mulai membicarakan topik lainnya. Dari kegemaran, mimpi, film, hingga lagu.
Ah, rasanya tak cukup semalaman berbincang denganmu. Topik pembicaraan selalu saja ada. Namun, tak terasa jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul sembilan, tanda aku harus segera pulang sebelum terlalu malam. Entah mengapa senyum selalu menghiasi wajahku selama perjalanan hingga aku masuk kamar.
Esok harinya kita kembali bertemu. Bahkan, diskusi kita lanjutkan sembari menyantap makan malam di warung kaki lima. Dengan lampu pinggir jalan sebagai lampu sorotnya dan satu dua pengamen sebagai orkestranya, kita bagaikan tokoh dalam sebuah panggung drama. Sedang memainkan peran sebagai muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.
Sudah lama aku tak merasa seperti ini. Terima kasih, karena telah membuatku “terjerembab” sekali lagi. 

Padahal kamu bukan orang yang kukira akan bisa membuatku jatuh cinta. Namun, memang kenyamanan bisa mengalahkan “kriteria pria idaman” yang sebelumnya aku punya.

Dulu aku pernah bersumpah tidak ingin jatuh cinta setelah pernah terluka. Namun, kau berbeda. Kau menawarkan cinta dengan bungkus yang sederhana. Bagaimana aku bisa menolaknya?
Tak pernah sebelumnya aku merasakan cinta yang begitu memabukkan. Tak pernah kubayangkan juga hatiku akan tertambat pada pria sepertimu. Ah, tapi, mana bisa aku tak tunduk pada apa yang kamu punya?
Setiap kau mulai berbicara aku akan tersihir mendengarkan. Kau memang punya segudang pengetahuan yang tak henti-hentinya mengundang decak kagum. Kau lontarkan beragam teori yang sebelumnya tak kupahami, membuatku bertambah wawasan secara cuma-cuma. Sepertinya aku bisa bertanya apa saja tanpa mengundang tatap menghakimi. Membuatku nyaman dan merasa kamulah yang selalu mengerti.
Sifat seriusmu memang selalu terimbangi dengan sifatku yang senang berkelakar. Aku pun selalu ingin membuatmu tertawa lagi dan lagi. Sepertinya kita tercipta untuk saling melengkapi. 

Aku yang sebelumnya terlalu malu, kini memberanikan diri untuk menyampaikan rasa. “Maukah kamu merajut cerita bersama?”

Aku terlalu malu untuk melontarkannya padamu. Lidah ini selalu saja kelu dan tak mampu melontarkan frasa dengan benar. Padahal aku selalu ingin menanyakan kesediaanmu mengisi hari-hariku yang selanjutnya. Untuk melengkapi ruang kosong yang ada di sela-sela jariku dan dengan mantap menjajari langkah kakiku.
Atau kemudian menarikku ke dalam pelukanmu dan mendaratkan kecupan singkat di dahiku. Ya, aku ingin kamu ada di sana, menjadi milikku seutuhnya dan menjadi pelontar di saat aku sedang berada di titik terendah kehidupan.
Sudah kuputuskan. Senja ini, kubulatkan tekadku untuk melontarkan frasa sederhana ini padamu.
“Maukah kau menjadi tokoh utama dalam kisahku?”

*sumber : www.hipwee.com 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendonor darah pekanbaru (pendorapku)

Pendora adalah komunitas untuk berbagi informasi seputar donor darah dan membantu masyarakat dalam pencarian donor darah yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar khususnya kota Pekanbaru. Hal ini guna menghindari masyarakat dari calo darah. Selain memberi informasi lokasi donor darah per hari, pendorapku akan membantu anda dalam mencari donor darah di wilayah kota Pekanbaru. Tanpa menggunakan calo darah! Silahkan Lampirkan : 1. Nama Lengkap Pasien 2. Rumah Sakit Pasien 3. Nomor Telpon keluarga Pasien 4. Golongan Darah Pasien 5. Jumlah Kantong Darah yang di butuhkan Pasien Kirim ke 0813-7926-4646 atau ke sosial media pendorapku. Pendorapku bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya donor darah. Saat ini Pendorapku bekerjasama dengan Beberapa Organisasi seperti KSR PMI Unit Universitas Riau, KSR PMI Unit 03 Universitas Islam Riau, KSR PMI Unit 04 Universitas Uin Suska Riau dan organisasi Kemanusiaan Hilmi Riau, juga menjalin komunikasi yang baik ...

Kampanye Kreatif Melalui Komunikasi Visual

P ada masa kampanye, umumnya calon presiden cenderung lebih memilih menggunakan konsepsi berkampanye dengan cara-cara yang konvensional seperti dengan memasang bendera, spanduk ataupun stiker-stiker. Padahal dapat dilihat penggunaan cara berkampanye seperti ini cenderung mengotori ruang terbuka bagi publik. Untuk itulah kampanye kreatif tengah menjadi trend dalam iklim demokrasi yang berjalan begitu dinamis ini. Berbagai kreatifitas bermunculan dari tiap tim sukses untuk mendukung calon presiden dan wakil presiden dalam pemilihan presiden kali ini melalui segi komunikasi visual. Apa itu komunikasi visual? Kita ketahui, komunikasi visual yaitu komunikasi   melalui   penglihatan . Sebuah rangkaian proses penyampaian infromasi atau pesan kepada pihak lain dengan menggunakan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan Media komunikasi visual menkombinasikan antara   seni ,   lambang ,   tipografi ,   gambar ,   desain grafis ...

Review Novel Pulang karya Tere Liye

Berhubung saat ini saya tengah melakukan penelitian akhir mengenai salah satu novel bestseller karya novelis yang namanya sudah sangat dikenal di Tanah Air, ya Tere Liye. Sedikit banyaknya sudah khatam saya membaca tiap detil dari novel Pulang nya bang Tere. Dan kesimpulannya menurut saya, novel satu ini sangat menarik buat pembaca novel ataupun penggemar dari karya Tere Liye. Bersetting pedalaman Sumatera, novel ini jelas menggambarkan bagaimana kondisi alam pedalaman Sumatera. Saya rasa pemilihan setting pedalaman Sumatera ini pada novel Pulang tentu dikarenakan pemahaman bang Tere juga pada struktur alam di Sumatera yang merupakan tanah kelahiran dari si penulis. Dari isi cerita, novel ini juga sangat jelas mengupas sisi lain dari dunia perekonomian yang mungkin sedikit banyak belum diketahui masyarakat bahwa mungkin sekiranya praktik shadow economy memang ada di dalam kehidupan kita. Bercerita kisah, well awalnya dari melihat judul novel ini saya kira novel ini bercerita ...